Perbedaan Sindrom Iritasi Usus Besar dengan Sakit Maag

IBS atau Irritable bowel syndrome atau sindrom iritasi usus besar adalah gangguan kronis yang mempengaruhi usus besar. Biasanya IBS ini menyebabkan perut kram, diare dan ketidaknyamanan lainnya. Gejala IBS datang secara bertahap, mulai dari sakit biasa hingga kronis. Kadang, rasa sakit sudah ada sejak anak-anak. Tetapi, karena dianggap tidak terlalu sakit atau hanya sakit maag biasa, lalu hanya diobati dengan obat warung saja tidak dengan menggunakan obat sakit maag resep dari dokter ataupun obat herbal sakit maag. Sehingga, ketika dewasa dan intensitas sakit bertambah parah, barulah pergi ke ahli medis. Oleh karena itu, mari kita kenali perbedaan sindrom iritasi usus besar dengan sakit maag, supaya kita bisa menangani penyakit secara dini.

Perbedaan Sindrom Iritasi Usus Besar dengan Sakit Maag

Perbedaan Sindrom Iritasi Usus Besar dengan Sakit Maag

Mengalami 2 gejala tertentu
Umumnya gejala IBS ditandai dengan diare, sembelit, perut bergas, kembung, ada lendir dalam feses dan perut melilit. Jika Anda mengalami kedua gejala diantara gejala-gejala diatas secara bersamaan, maka bisa jadi Anda mengalami IBS. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Abdullah Shatnawei, MD, seorang gastroenterologis di Cleveland Clinic. IBS dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih umum terjadi pada usia muda. Kebanyakan orang dengan IBS didiagnosa pada usia 20an.

Mengalami masalah pencernaan
Seseorang yang mengalami IBS akan mengalami gangguan pencernaan minimal satu hari dalam seminggu selama sebulan terakhir. Selain itu, umumnya penderita IBS berusia dewasa akan mengalami perubahan dalam kebiasaan BAB mereka. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Shatnawei. Mungkin, Anda juga akan mengalami perubahan frekuensi BAB dan perubahan bentuk feses.

Sakit disekitar perut atau ditempat yang berbeda-beda setiap hari.
Dr. Shatnawei mengatakan bahwa sebagian besar rasa sakit terkait IBS bersifat nonspesifik alias bisa ada di mana-mana di sekitar perut, jarang terisolasi di area tertentu. Hal ini berbeda dengan usus buntu, yang terpusat di kuadran kanan bawah perut.

Dokter akan menyarankan untuk mengikuti tes kepekaan terhadap makanan
Gejala IBS dapat meniru gejala sakit lainnya, sehingga pada awal pemeriksaan, dokter perlu menjalankan tes ternteu untuk memastikan. Menurut Darrel Gray, MD, gastroenterologis di University Wexner Medical Center Ohio State mengungkapkan bahwa,”Perbedaan gejala gastroenstestinal sering samar-samar, misalnya antara infeksi bakteri, penyakit celiac, sensitivitas gluten dan intoleransi laktosa.

Memerhatikan detail saat Anda sakit dapat membantu mengidentifikasi masalah. Apakah setelah minum susu? Apakah setelah makan gluten? Kadang-kadang, Anda mungkin menderita IBS berbarengan dengan sakit pencernaan lainnya.

Tidak ada gejala darah dalam feses
Menurut Dr. Gray,”demam, berat badan turun tidak sengaja, ada darah dalam feses Anda, rasa sakit melilit sehingga Anda terbangun dari tidur, dan anemia. Itu adalah gejala tidak khas IBS dan dokter perlu melakukan tes untuk mengecualikan penyakit lain”.

Dengan gejala-gejala tersebut, mungkin saja sebenarnya Anda menderita infeksi gastrointestinal atau penyakit radang usus seperti Crohn atau kolitis ulserativa. Atau, kanker usus besar atau kanker rektum. Kondisi-kondisi seperti ini dapat mengancam jiwa atau dapat menyebabkan komplikasi. Oleh karena itu, sebaiknya segeralah untuk memeriksakan diri dan segera obat dengan obat yang tepat. Jika Anda lebih memilih dengan menggunakan herbal, cobalah dengan mengkonsumsi obat penyakit asam lambung aman untuk semua usia dari QnC Jelly Gamat.

| Perbedaan Sindrom Iritasi Usus Besar dengan Sakit Maag